Istana Maimon, Istana Warisan Kesultanan Melayu – Deli

0
294

Istana Maimon adalah salah satu istana yang paling indah masih ada di Indonesia. unik arsitektur dan desain interior yang Mewah memberikan karakter yang khas. Istana Maimun ini dibangun oleh Sultan Makmun Al-Rasyid Perkasa Alamsyah. Istana Maimon yang dibangun oleh desain dari seorang arsitek Italia pada 1888. Sebagai warisan Kesultanan Melayu, Deli, Istana Maimun didominasi warna kuning, Melayu yang khas. Istana Maimoon dibangun di atas lahan seluas 2772 m persegi di pusat kerajaan Deli, sekarang Jalan Brigjen Katamso, Medan. Istana Maimon menjadi pilihan tempat Wisata Karena keindahan dan Kemegahan yang di bangun pada Jaman Dahulu.

Istana Maimun terdiri dari dua lantai terbagi dalam tiga bagian, bangunan utama, sayap kiri sayap dan kanan. Di depan, sekitar 100 meter, berdiri Masjid Al-Maksum dikenal sebagai Masjid Raya Medan. Di ruang tamu (ruang utama), Anda akan menghadapi takhta yang didominasi oleh warna kuning. Kristal lampu di atas takhta itu, bentuk pengaruh budaya Eropa. Efek yang sama muncul di pengadilan furnitur seperti kursi, meja, toilet dan lemari dan pintu, yang mengarah ke aula. Ruangan seluas 412 meter persegi digunakan untuk agenda penobatan Sultan Deli atau tradisional. Hall juga digunakan sebagai tempat Sultan menerima pujian dari kerabat dan keluarga di hari libur Islam.

Mariam Puntung Peninggalan Sejarah Istana Maimon
Menurut cerita, pada zaman dulu, tepatnya tahun 1612, berdiri sebuah kerajaan baru yang disebut Aru (Deli Tua sekarang). Kerajaan ini dipimpin oleh tiga bersaudara Mambang Diyazid, Putri Hijau dan Mambang Sakti.

Putri hijau cukup terkenal namanya di mana-mana dari Aceh sampai ujung utara Jawa. Sultan jatuh cinta dengan sang putri dan memintanya untuk menjadi ratu. Proposal ditolak oleh Sultan saudara Putri Hijau. Sultan sangat marah karena penolakan itu dianggap sebagai penghinaan terhadap dirinya. Kesultanan Aceh kemudian memerangi Kesultanan Deli.

Sekali waktu, dengan menggunakan kekuatan gaib, seorang kakak Putri Hijau (Mambang Yazid) telah berubah menjadi seekor naga. Saudara lainnya (Mambang Hayali) menjelma menjadi sepucuk meriam yang tidak berhenti menembak tentara Aceh sampai kematiannya.

Kesultanan Deli mengalami kekalahan dalam perang. Kecewa, Putra Mahkota yang menjelma menjadi meriam itu meledak. Bagian belakang terlempar ke Labuhan Deli dan bagian depan ke dataran tinggi Karo sekitar lima kilometer dari Kabanjahe.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.